Jakarta, 31 Juli 2012
Tiga lembaga zakat terkemuka yakni Dompet Dhuafa, PKPU dan Rumah Zakat bergabung dalam aksi kemanusiaan Rohingya. Kerjasama ini diberi tajuk LOVE ROHINGYA. Tim gabungan ini akan melakukan kampanye bersama dan memberi bantuan dengan mengirimksn tim kemanusiaan ke perbatasan Myanmar melalui Bangladesh.
Kerjasama ini disambut baik oleh berbagai kalangan sebagai langkah maju. Sebaiknya lembaga kemanusiaan berhimpun dalam melaksanakan program kemanusiaan agar lebih efisien dan efektif. Saat ini bantauan dari donatur perorangan maupun perusahaan telah mengalir melalui ketiga lembaga tersebut. Sambutan masyarakat atas kerjasama tiga lembaga besar ini tentu saja ditanggapi positif oleh ketiga lembaga. Kamis,3 Agustus ini ketiga lembaga akan menggelarckonferensi pers utk menjelaskan kepada media langkah yang sudah maupun akan dilaksanakan di bagi membantu minoritas Muslim Rohingya yang saat ini sangat menderita.
PBB telah memberi catatan bahwa Rohingya adalah minoritas yang paling teraniaya dimuka bumi. Amnesty zinternational juga telah mengeluarkan pernyataan serupa. Saat ini lembaga-lembaga kemanusiaan dunia sedang mempersiapkan bantuan untuk pengungsi Rohingya. Selain telaman pilitik yang telamgah digalang utk menghentikan kekejian di Myanmar ini.
Map.
Peduli Etnis Rohingya, Rumah Zakat Kirim Tim ke Myanmar
| JAKARTA, Jaringnews.com - Umat Islam di seluruh dunia terus menyerukan keprihatinan terhadap penderitaan yang dialami Muslim Rohingya di Myanmar. Rumah Zakat sebagai lembaga filantropi internasional yang berbasis pemberdayaan juga mengutuk keras tragedi kemanusiaan tersebut. Chief Executive Officer (CEO) Rumah Zakat Nur Efendi dalam siaran persnya yang diterima Jaringnews.com menegaskan bahwa penderitaan yang dialami oleh kaum Muslim Rohingya merupakan penderitaan seluruh umat Islam di seluruh dunia. Karena itu, ia menyerukan agar umat Islam menunjukkan kepeduliannya dengan membantu mereka. “Permasalahan Rohingya adalah masalah kita semua. Sebagai sesama muslim dan sesama umat manusia mereka adalah saudara kita. Permasalahan yang mereka alami adalah masalah kita juga. Karena itu kita harus membantu saudara-saudara kita kaum Muslim Rohingya,” tegas Nur Efendi di Jakarta, Selasa (31/7). Untuk membantu Muslim Rohingya, rencananya Rumah Zakat bersama beberapa Lembaga Amil Zakat lainnya yang tergabung dalam Forum Love Rohingya akan mengirimkan tim ke Myanmar. “Doakan agar tim kami diberi kelancaran dalam menjalankan misi kemanusiaan ini,” tutur Efendi yang juga Ketua Forum Zakat Bidang Keanggotaan dan Jaringan. Efendi menambahkan, penindasan yang dialami Muslim Rohingya sangat mengoyak rasa kemanusiaan umat Islam khususnya dan umat manusia pada umumnya. Di era demokrasi di mana hak-hak kaum minoritas seharusnya mendapatkan perlindungan, tapi di Myanmar justru sebaliknya Muslim Rohingya ditindas dan ada upaya sistematis untuk membersihkan etnis. “Kami mendesak agar PBB segera turun tangan dan menegakkan hukum internasional untuk mengatasi masalah kemanusiaan yang dialami Muslim Rohingya ini,” pungkas Efendi. |
PKPU: Pengungsi Muslim Rohingya Butuh Bantuan
KBRN, Jakarta : Muslim Rohingya membanjiri sejumlah negara-negara tetangga seperti Bangladesh, Thailand, Malaysia, dan Indonesia, untuk mengungsi.
Direktur Pendayagunaan Pos Keadilan Peduli Ummat (PKPU) Tomy Hendrajati, mengatakan kondisi pengungsi Rohingya serba kekurangan baik kekurangan pakaian maupun air bersih.
“Kalau yang mengungsi di Indonesia sampai saat ini dalam kondisi seadanya dan masih perlu bantuan dari masayarakat kita,” kata Tomy Hendrajati, dalam dialog bersama Pro3 RRI, Selasa (31/7).
Kekerasan yang terjadi di Myanmar pada pertengahan Mei lalu, menyebabkan ratusan ribu Muslim Rohingya terusir dari kampung halamannya. Mereka mengungsi ke sejumlah negara dengan kondisi mengenaskan. Menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa, Minggu (29/7), sebanyak 800 ribu Muslim Rohingya kini terus mengalami tindak kekerasan, bahkan pembantaian.
Kondisi pengungsi yang paling memprihatinkan adalah di daerah Kutapalong, di perbatasan Myanmar dan Bangladesh. Mereka tinggal dilokasi pengungsian yang kotor dan kumuh. Diperkirakan ada 300 ribu orang yang mengungsi disana. Pihak PKPU sebagai lembaga swadaya masyarakat (LSM) dibidang sosial akan terus melakukan penggalangan dana dan mengirim tim ke Bangladesh.
“Pengungsi di Indonesia, kita menggalang dukungan ke masyarakat, tidak hanya kaum muslimin saja. Kita akan mencari tempat alternatif untuk pengungsi,” jelasnya.
“Sampai saat ini, kami juga melakukan koordinasi dengan patner kita di Bangladesh. Kami berencana akan mengirim tim“.
Nasib dari Muslim Rohingya terkatung-katung pasalnya Pemerintah Myanmar sendiri tidak mengakui mereka sebagai warga negara Myanmar. Oleh pemerintah, Muslim Rohingya disebut sebagai warga illegal dari Bangladesh.
Sehingga tidak heran apabila Muslim Rohingya kerap diperlakukan secara diskriminatif. Alhasil dari stigma tersebut, Muslim Ronghinya tidak memiliki status kewarganegaraan yang berdampak kepada kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan, pendidikan, akses kesehatan. (Sgd/WDA)
Pemerintah Cuek, Mer-C dan Dompet Dhuafa Bantu Muslim Rohingya
JAKARTA (VoA-Islam) – Nasib Muslim Rohingya di Myanmar dan tempat pengungsian semakin mengkhawatirkan. Atas kondisi itu, lembaga Zakat Dompet Dhuafa (DD) akan mencairkan sebanyak Rp 300 juta rupiah untuk membantu pengungsi Rohingya. Bantuan ini difokuskan sebagai pengadaan kebutuhan kesehatan dan nutrisi bagi para pengungsi yang tidak diterima di Bangladesh.
Direktur DD Arifin Purwakananta di sela-sela aksi peduli Rohingya di bundaran HI Kamis (26/07/2012) mendapatkan informasi yang memilukan, dimana mereka kekurangan obat-obatan, tidak punya makanan dan tidak memiliki tempat berteduh.
Saat ini, dua tim relawan dari Disaster Managemen Center (DMC) Dompet Dhuafa akan dikirimkan dengan menggunakan visa Bangladesh. Dari Bangladesh para relawan DD akan bergerak menuju Kutapalong dan mencari informasi untuk bisa menembus ke tempat pengungsi Rohingya yang terkatung-katung di perbatasan antara Myanmar dan Bangladesh.
“Kita akan coba menembus Myanmar untuk bisa bertemu dengan pihak-pihak Muslim Myanmar yang sekarang ini menjadi pengawal dari masyarakat Rohingya yang teraniaya,” tandasnya.
Sementara itu, Medical Emergency Rescue Committee (Mer- C) juga mengupayakan pengiriman bantuan untuk warga Muslim Myanmar di Arakan. Namun Mer-C mengakui adanya kesulitan yang dihadapi dalam memasuki wilayah di negeri yang sempat dipimpin junta militer itu.
Presidium Mer-C Dr. Joserizal, di Gedung Mer-C, Jakarta, Senin (2/7/2012), menjelaskan, jarak dari pusat kota Myanmar menuju Arakan sangat jauh. Mer-C lebih disarankan agar mengambil jalur laut untuk mengirimkan bantuan kemanusiaan. Selain jalur laut, Mer-C mungkin akan mengambil jalur udara.
Bantu Manusia Perahu
Direktur DD Arifin Purwakananta menjelaskan, DD bukan hanya kali ini membantu pengungsi Rohingya. Pada dua Ramadhan lalu, DD mengaku juga sudah mengirimkan bantuan kurban untuk keperluan Idul Adha bagi pengungsi. DD melalui Aksi Cepat Tanggap (ACT) pernah memimpin Advance Team sebelum ACTion Team for Rohingya untuk memberi bantuan kemanusiaan bagi para pengungsi Rohingya yang terdampar di Indonesia.
Seperti diberitakan media massa, pengungsi Muslim Rohingya yang ditampung di Tanjungpinang, Kepulauan Riau tersebut, memohon suaka politik ke Indonesia, mengingat hampir 20 tahunan hidup dalam teror dan penindasan. Sebanyak 55 warga Myanmar ditemukan terdampar di perairan Bluka Tubai, Krueng Geukuh, Aceh Utara, Rabu, 1 Februari lalu.
Imigrasi dan Pemda Aceh Utara kemudian mengevakuasi mereka ke tempat penampungan sementara di bekas Kantor Imigrasi di Peunteut, Blang Mangat, Lhokseumawe. Dua dari 55 warga Rohingya itu, M Nizam dan Kolimullah kabur dari lokasi tersebut pada Rabu 8 Februari dan Rabu ,15 Februari 2012.
Pada tanggal 22 Februari 2012, pihak Imigrasi dan Pemda Aceh Utara mengirimkan pengungsi tersebut ke Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Pusat di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau.
Voa-Islam mencatat, pada tahun 1009, 198 pengungsi muslim Rohingya yang menjadi minoritas di negara asalnya, Myanmar sempat berminggu-minggu terapung di atas ganasnya laut, dalam perahu kayu tanpa mesin masuk ke perairan Indonesia. “Manusia Perahu” tersebut (demikian media mengistilahkan) ditemukan oleh nelayan di Pantai Aceh, dalam keadaan tanpa pangan dan air minum. Bahkan 22 orang diantaranya telah meninggal dunia ketika masih terapung akibat kelaparan dan dehidrasi. Sementara itu, ratusan “manusia perahu” Rohingya lainnya lagi juga telah lebih dahulu mengungsi dan berada di Pulau Sabang.
Saat ini, jutaan Muslim Rohingya telah menyebar ke berbagai negara untuk mencari kehidupan yang lebih baik, setelah mendapat tekanan yang serius dari pemerintah Junta Militer Myanmar. Diantara negara yang mereka datangi adalah Bangladesh dan Thailand. Mereka yang kemudian terdampar di Aceh dan Sabang ini adalah orang-orang Rohingya yang diusir dari negara yang disinggahi sebelumnya, Thailand dan Bangladesh.
Arifin Purwakanta meminta lembaga kemanusiaan di seluruh dunia untuk turun tangan. Mengingat lambatnya langkah PBB untuk menyikapi hal ini. “Ini bukan sekedar isu anti Islam, tapi yang paling penting kita sadar bahwa ini adalah masalah kemanusiaan,” ujarnya.
Selain mengecam kekejaman rezim militer Myanmar, Dompet Dhuafa juga akan melakukan kordinasi international dengan semua elemen lembaga kemanusiaan untuk segera terlibat membantu para pengungsi Rohingya. (Desastian/dbs)
Subscribe to:
Posts (Atom)
